Friday, 29 February 2008

ESKATOLOGI: Kebangkitan dan Kehidupan setelah Kematian


Perbincangan tentang persoalan-persoalan yang bersifat abstrak (eskatologi) cenderung memuakkan bagi sebagian orang. Namun meninjau kembali orisinalitas kebebasan dalam berpikir, perbincangan tentang persoalan-persoalan tersebut dapat menginspirasikan kita untuk mengolah dan meyegarkan kembali pikiran, sehingga wawasan yang kita miliki dapat bertambah dan menjadi kebahagiaan tersendiri yang dapat dinikmati.

Eskatologi identik dengan pertanggungjawaban manusia dalam hidupnya ketika ia menghadapi kematian – sesuatu yang diinginkan maupun tidak ia merupakan sebuah kepastian yang akan datang. Tapi juga eskatologi selalu terkait dengan kehidupan akhirat (kehidupan setelah kematian). Maka, dalam tulisan ini akan diuraikan pengertian eskatologi, eskatologi dalam al-Qur’ān, sekilas tentang kematian, sekilas tentang kiamat, serta kesimpulan akhir dari makalah ini.

Pengertian Eskatologi

Eskatologi berasal dari kata eschalos dalam bahasa Yunani yang berarti ‘yang terakhir’, ‘yang selanjutnya’, dan ‘yang paling jauh’. Secara umum merupakan keyakinan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia seperti kematian, hari kiamat, hari berakhirnya dunia, saat akhir sejarah, dan lain-lain.[1] Ketika kata eschalos disandingkan dengan kata logos yang menjadi eskatologi dalam bahasa Indonesia berarti ilmu atau pengetahuan tentang hal-hal akhir, hal-hal pamungkas, atau yang menyangkut realitas akhirat sebagai akhir kehidupan seperti kematian, kebangkitan, pengadilan terakhir, serta kiamat sebagai akhir dunia.

Dalam filsafat Islam perbincangan tentang eskatologi menjadi sebuah bidang tersendiri sebagai refleksi pengungkapan dimensi-dimensi metafisis dan ketuhanan yang berlandaskan pada ayat-ayat yang termaktub di dalam al-Qur’ān. Walaupun demikian pembahasan tentang eskatologi ini mengundang perdebatan yang sangat krusial di antara para pemikir Islam, filsuf, dan lain sebagainya. Seperti Imam al-Ghazālī yang cenderung mengkafirkan para filsuf yang diwakili oleh al-Fārābī dan Ibn Sīnā karena tiga sebab yang salah satunya adalah persoalan eskatologis.

Di samping itu, dari perbincangan seputar persoalan-persoalan eskatologi melahirkan asketisme.[2] Sebuah pandangan hidup yang menjadikan alam akhirat sebagai tujuan utama dalam hidupnya tanpa melupakan kewajibannya di alam dunia: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan oleh Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”[3]

Begitu besar pengaruhnya perbincangan tentang eskatologi sehingga ia sering juga diartikan dengan realitas surga dan neraka. Bahkan, gambaran kronologis tentang keduanya telah diungkapkan di dalam Kitab Suci.

Eskatologi dalam al-Qur’ān

Berita-berita maupun tanda-tanda tentang hari akhir banyak disinggung di dalam al-Qur’ān. Banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan erat dengan kebangkitan dan kehidupan setelah mati. Bahasa-bahasa yang digunakan sebagai simbol yang menunjukkan kepastian Hari Akhir beragam sekali seperti Hari Penegasan (Yawm al-Qiyāmah), Hari Akhir (al-Yawm al-Ākhir), Hari yang Dijanjikan (al-Yawm al-Maw‘ūd), Hari Keputusan (Yawm al-Fashl), dan lain sebagainya. Seperti yang tercantum di dalam ayat yang berarti: “Sesungguhnya Hari Keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan, yaitu hari (yang pada waktu itu ditup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok, dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu, dan dijalankanlah gunung-gunung maka menjadi fatamorganalah ia.”[4]

Dari seluruh bahasa simbol tentang hari akhir (eskatologi) yang digunakan di dalam al-Qur’ān, pada hakekatnya, hanya mengandung satu pesan yakni keimanan. Dengan kata lain, eskatologi di dalam Kitab Suci tersebut selalu identik dengan keimanan. Banyak sekali ayat-ayat yang menyandingkan keimanan kepada Tuhan dengan hari akhir (eskatologi), di antaranya: “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akan adanya kehidupan (akhirat).[5]

Sekilas tentang Kematian

Di atas telah disebutkan bahwa eskatologi secara umum merupakan keyakinan yang berkaitan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia, dalam hal ini salah satunya adalah kematian. Ada suatu gambaran yang mengingatkan kita tentang kematian, yaitu seperti halnya kita pergi keluar rumah untuk melaksanakan segala tujuan yang telah direncanakan. Pergi keluar dengan kata lain adalah meninggalkan apa-apa yang ada di dalam rumah, baik itu suami, istri, anak, orang tua, dan lain sebagainya. Tentu saja, jika tujuan yang telah direncanakan tersebut tercapai, maka kita akan kembali menuju rumah yang kita tinggalkan, dan tinggal kembali di dalamnya bersama sanak keluarga.

Gambaran di atas sebenarnya saya maksudkan untuk mengkiaskan istilah perpisahan ruh (rūh) dengan jasad (al-jasad). Al-Ghazālī dalam buku Remembrance of Death and Afterlife yang diterjemahkan menjadi Metode Menjemput Maut: Perspektif Sufistik (1989), mengatakan bahwa makna perpisahan ruh dengan jasad adalah bahwa ruh sama sekali tidak lagi efektif bagi jasad. Oleh karena itu jasad pun tidak lagi tunduk pada perintahnya.[6]

Mungkin jika kita tinjau secara sepintas, ungkapan tersebut dapat diartikan sebagai dua entitas yang terpisah, yaitu antara ruh dengan jasad, jadi ruh seakan-akan berada di luar jasad yang telah menjadi bangkai. Maka jangan aneh jika banyak film-film hantu berceritakan seperti itu. Namun di sisi lain ungkapan al-Ghazālī tersebut saya pahami sebagai ruh yang tidak efektif lagi bagi keinginan diri (hawa nafsu) manusia, maka dengan begitu hawa nafsu tidak lagi berkuasa atas diri manusia. Contohnya jika hati berkata manis, maka mulut berkata juga tentang manis.

Tidak sebaliknya, jika hati berkata manis, mulut mengatakannya pahit. Setidaknya contoh ini membuktikan dua hal, jika hawa nafsu berkuasa, maka ruh (cahaya kebenaran) dalam diri manusia tidak akan terpancar, tapi jika ruh berkuasa maka hawa nafsu ada dalam kendali ruh. Maka di sinilah pentingnya kesadaran manusia atas tindakan yang akan dan telah dilakunnya, yaitu dengan sikap jujur dan penuh tanggung jawab. Anas meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda: “Kematian adalah kiamat; barang siapa mati berati kiamatnya telah tiba.”

Beliau juga bersabda: “Jika salah seorang dari kalian mati, maka tempat duduknya [yang akan datang] diperlihatkan kepadanya pagi dan petang; jika dia termasuk penghuni surga, maka tempat duduknya itu ditempatkan di penghuni surga, dan jika dia termasuk penghuni neraka, maka tempat duduknya itu ditempatkan di neraka. Dan kepadanya akan dikatakan. ‘Inilah tempat kalian dibangkitkan untuk menemui Dia pada hari kebangkitan.”[7]

Sekilas tentang Kiamat

Kiamat mempunyai arti sebagai penegakan kembali (benar atau salah, baik atau buruk, dan lain-lain). Sebuah arti dalam persepsi yang selalu menunjukkan makna. Maka kematian sebagai kiamat dalam konteks di atas, dapat dipahami sebagai jalan menuju penegakan “realitas sejati.” Suatu keadaan yang menunjukkan karma (akibat) dari semua persoalan hidup yang jawabannya ada dalam Hadis Nabi di atas. Namun, bahasa yang terdapat di dalam Hadis terkadang menggunakan bahasa simbolis, yang perlu kita pahami kembali. Pagi dan petang adalah sebuah simbol yang mengungkapkan antara terang dan gelap, hitam dan putih, baik dan buruk, benar dan salah, suci dan najis, bersih dan kotor, dan lain sebagainya. Adapun bahasa surga dan neraka janganlah kita pahami sebagai surga dan neraka yang berada jauh di luar alam pikiran kita. Surga dan neraka dalam hal ini adalah kehidupan kita sendiri, yakni jika kita selalu sadar, tabah, dan bijaksana dalam hidup maka kita akan digolongkan ke dalam orang-orang suci yang senantiasa terbebas dari belenggu hawa nafsu (bahagia). Dan jika kita selalu mengikuti hawa nafsu dengan penuh ketidaksadaran, maka kita tergolong orang-orang yang hidup dalam kemelut (urusan) hidup duniawi belaka. Maka kedua sifat tersebut telah menentukan kehidupan dia selanjutnya, dengan kata lain jiwa yang senantiasa mensucikan dirinya akan dikumpulkan bersama yang suci juga, sedangkan yang jiwa yang penuh dengan kecintaan lahir maka ia akan terus diperbudak oleh kecintaan lahirnya. Dengan begitu hal ini menunjukan bahwa jiwa atau ruh itu adalah abadi.

Kemudian, marilah kita merefleksikanlah pemikiran Mullā Shadrā, yang berkata, “ketahuilah jka hubungan jiwa dengan badan ini terputus, maka jiwa itu kekal dan jiwa tersebut juga bisa rusak. Ketahuilah juga bahwa jika jiwa meninggalkan badan karena rusaknya percampuran, maka kemungkinan adalah bahwa ia berpindah ke alam akal (‘ālam al-‘uqūl) atau ke alam ide (‘ālam al-mitsāl) yang disebut imajinasi (khayal) yang terpisah yang menyerupai imajinasi yang bersambung ke tubuh binatang di alam ini atau hilang. Kemungkinan-kemungkinan itu tidak lebih dari empat. Dua yang terakhir adalah batil. Tinggallah dua yang pertama. Yang pertama adalah untuk golongan al-muqarrabūn dan yang kedua adalah untuk golongan kanan (ashhāb al-yamīn) dan golongan kiri (ashhāb al-syimāl) dalam tingkatan masing-masing. Kami tahu bahwa yang benar dalam tempat kembali (al-ma‘ād) – dalam eskatologi – adalah kembalinya badan dengan esensinya, sebagaimana ditunjukkan di dalam syari’at yang benar tanpa perlu penakwilan dan perincian.[8]

Kesimpulan

Perbincangan tentang eskatologi sebenarnya menarik untuk kita kaji. Hal itu dikarenakan banyak hal yang seringkali disalahartikan oleh manusia mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hari akhir, baik itu persoalan kematian, kiamat, hari kebangkitan, dan lain-lain. Jika hal-hal seperti itu hanya diartikan dengan logika imajinatif, maka ujung pangkal dari keyakinan manusia pada dasarnya hanyalah sebagai sebuah ilusi. Maka dari itu penting kiranya bagi kita untuk dapat melakukan pencarian makna eskatologi sebelum kematian tiba pada diri kita. Supaya segala doktrin yang berkaitan dengan eskatologi dapat diterima dengan akal sehat.


Karena kematian merupakan kepastian, maka secara psikologis pengaruhnya amat besar dalam bawah sadar kehidupan seseorang dan dalam perilaku manusia. Hidup manusia, menurut Martin Heidegeer, adalah suatu kehadiran yang tertuju ke arah kematian.[9] Pembuktian bahwa ruh itu abadi, adalah sebagai petunjuk bagi kita bahwa kehidupan tidak berakhir selepas kematian tiba. Namun pada dasarnya manusia dihadapkan pada pertanggungjawaban hidup yang sebenarnya, yaitu karma dari apa-apa yang telah dilakukannya di dunia. Untuk mengakhiri kesimpulan ini, ada sebuah ungkapan bijak, “Jika kita “buta” di dunia, maka “buta” pula di akhiratnya”. Semoga kita senantiasa menempatkan diri dalam ketunggalan Tuhan. Wa Allāh-u a‘lam bi ‘l-shawāb

_____________________

[1] Musa Asy’arie, Filsafat Islam: Sunnah Nabi dalam Berpikir (Yogyakarta: LESFI, 2002), hlm. 239.


[2] Asketisme berasal dari kata askein dalam bahasa Yunani yang berarti ‘berlatih’, kemudian menjadi asketikos yang berarti ‘terlatih’. Kemudian kata asketis selalu diidentikkan dengan orang yang memusatkan dirinya untuk bertolak dari keduniaan (zâhid).

[3] QS al-Qashash, ayat 77

[4] QS al-Naba', ayat 17-20

[5] QS al-Baqarah, ayat 04.

[6] Al-Ghazâlî, Metode Menjemput Maut: Perspektif Sufistik, terj. Ahsin Mohamad (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 120.

[7] Ibid., 124.

[8] Mulla Shadra, Teosofi Islam: Manifestasi-manifestasi Ilahi, terj. Irwan Kurniawan (Bandung: Pustaka Hidayah, 2004), hlm. 128.

[9]
Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme (Jakarta: Hikmah, 2005), hlm. 72.

3 comments:

Syaharbanu said...
This comment has been removed by the author.
Syaharbanu said...

Kang dida Thx yah,,, Ini bisa bantuin ngerjain tugas falsafah al quran, Follow back kang..

Dida said...

hehehe. sudah.