Thursday, 5 June 2008

KARL MARX (1818-1883): Kritik terhadap Idealisme Jerman


Karl Marx merupakan seorang pemikir yang telah memahami segala fenomena kemasyarakatan di dunia ini. Ia mendobrak paradigma yang dianut oleh banyak orang di seluruh dunia yang bercorak kapitalistik. Dengan ide-ide yang ada ia dapat menggoncangkan dunia.

Marx berhasil menjadi salah satu dari tokoh-tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Pemikiran-pemikirannya selalu menjadi kajian kritis bagi para kaum intelektual kontemporer. Selain itu, ia juga mampu membuktikan kepada dunia bahwa ia merupakan seseorang yang peka terhadap masyarakat sekitar dan bercita-cita menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Sekilas tentang Marx

Ia dilahirkan pada tanggal 5 Mei 1818 di Trier, sebuah desa yang terletak hampir dekat dengan tepi sungai Moselle dan merupakan pusat dari daerah Moselle. Trier terletak di selatan, bagian dari daerah pertanian dari Rhineland, sebuah provinsi yang baru-baru ini dianggap dekat dari Prussia.[1]

Semula ia belajar di Bonn dan kemudian di Berlin. Ketika hidup di Berlin, ia terpikat oleh filsafat Hegel. Pada awalnya, ia bekerja sebagai wartawan yang menyebabkannya berkecimpung dalam politik yang praktis. Hal ini membuatnya dapat secara langsung berhubungan dengan realitas masyarakat yang ada. Kemudian pindah ke Paris, tempat ia bertemu dengan Friedricht Engels (1820-1883). Berkat pertolongan Engels dia mampu meneruskan karya ilmiahnya. Setelah diusir dari Perancis ia pindah ke Brussel. Ketika revolusi di Jerman meletus pada tahun 1848 kemudian ia pindah ke Koln. Setelah ia diusir lagi dari Jerman maka ia pindah lagi ke Paris dan akhirnya berdiam di London sampai meninggal pada tahun 1883.[2]

Pengaruh Hegel terhadap Marx

Dari beberapa sumber buku yang dibaca kita bisa menelaah lebih dalam bahwa tokoh yang paling berpengaruh terhadap Marx adalah Hegel. Meskipun ia mengkritik Hegel dengan tajam, namun ia tetap menganggap sampai akhir hayatnya Hegel adalah seorang pemikir terbesar. Karena itu, untuk memahami gaya berpikir Marx, kita harus memahami terlebih dahulu beberapa unsur dari filsafat Hegel.

Ada tiga unsur dari filsafat Hegel yang perlu dijelaskan secara singkat di sini: pertama, pengetahuan absolut; kedua, filsafat sejarah dan negara; ketiga, dialektika sebagai pola Hegel berfilsafat.

1. Pengetahuan Absolut

Yang membedakan filsafat Hegel dengan yang lainnya yaitu bukanlah pertama-tama apa yang dipikirkan melainkan caranya. Menurutnya, pengetahuan adalah sebuah proses di mana objek yang diketahui dengan subjek yang mengetahui saling mengembangkan satu sama lain, sehingga tidak akan pernah ada persamaan dan penyelesaian.

Hegel melukiskan perjalanan dari pengetahuan sederhana dan langsung ke ”pengetahuan absolut” dalam bukunya Phenomenology of Mind. Pengetahuan absolut adalah titik akhir dari perjalanan filsafat melalui segala fenomena pengalaman dan kesadaran yang menawarkan diri. Pengetahuan absolut mempunyai makna bahwa tidak ada lagi yang asing bagiku.

Inilah salah satu dari kritikan Marx terhadap Hegel. Memahami pengetahuan absolut itu berarti memperdamaikan dan memaafkan. Sehingga menurutnya kita tidak bisa berbuat apa-apa terhadap apa saja yang terjadi dan sedang terjadi sudah semestinya terjadi maka aku berdamai dan memaafkan.

2. Filsafat Sejarah

Apa yang ada dalam pengetahuan absolut menjadi kesadaran filosof merupakan gerak objektif dalam realitas. Dengan kata lain, Hegel memahami sejarah sebagai gerak ke arah rasionalitas dan kebebasan yang semakin besar. Roh semesta berada di belakang sejarah, ia mendapat objektifitasnya di dalamnya. Hegel berbicara tentang roh objektif: roh sebagaimana ia ungkapkan diri dalam kebudayaan-kebudayaan, dalam moralitas-moralitas bangsa-bangsa, dalam institusi-institusi.

Menurut Hegel, roh objektif mendapat ungkapan paling kuat dalam negara. Karena negara mempunyai kehendak untuk bertindak. Dalam filsafat sejarah, Hegel menunjukkan bagaimana manusia semakin menyadari kebebasannya dan mengorganisasikan diri dengan menjunjung tinggi kebebasannya.

Secara singkat, Hegel memuji negara modern sehingga menciptakan dua interpretasi: para Hegelian Kanan berkesimpulan bahwa, karena negara (modern) merupakan pengejawantahan rasionalitas, dia harus ditaati; menolak taat adalah tanda anarkisme yang tidak dewasa. Sebaliknya, para Hegelian Kiri termasuk Marx menekankan segi kritis paham Hegel: atas nama rasionalitas, kebijakan negara yang tidak rasional harus ditolak, negara perlu direvolusi agar menjadi rasional.

2. Catatan tentang Dialektika

Ciri khas dari filsafat Hegel adalah proses sehingga tidak ada bidang-bidang pengetahuan yang terisolasi. Semua selalu terkait satu sama lain dengan penyangkalan dan pembenaran. Itulah dialektika Hegel. Dialektika berarti: sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya.[3]

Hegel Puncak Idealisme Jerman

Dalam corak pemikiran filsafat Hegel ketika ia hidup ada beberapa pelajaran/teladan yang dapat kita petik sehingga melahirkan dua pandangan yang saling bertentangan: suatu pandangan yang ekstrim ke kanan mengundang reaksi ekstrim ke kiri yang kemudian menghasilkan sebuah pandangan yang menyelaraskan keduanya. Umpamanya: golongan yang satu menghendaki agar negara menguasai agama. Pandangan ini mengandung di dalamnya hal yang positif baik, bahwa ada satu kesatuan di antara kekuatan dan kekuasaan sehingga tata tertib nasional terjamin.

Adapun segi negatifnya ialah kebebasan untuk beragama ditiadakan dengan kata lain agama harus tunduk kepada pemerintah. Pandangan demikian memunculkan reaksi yang menghendaki agar agama menguasai negara. Segi positif dari pandangan ini adalah terwujudnya kebebasan beragama yang terjamin, artinya: agama dapat mengatur dirinya sendiri sesuai dengan hakekat dan sifat-sifatnya. Tetapi segi negatifnya adalah kebebasan beragama hanya berlaku bagi satu agama tertentu. Kalau memang pandangan yang pertama kita sebut sebagai tesenya maka pandangan yang kedua kita anggap sebagai antitesenya.

Secara singkat, berdasarkan idealismenya ia bermaksud mengatasi kedua sistem di dalamnya dengan memperdalam pengertian sintesis. Jadi di dalam sintesa baik tesa maupun antitesa bukan dibatasi tapi aufgehoben. Ada tiga arti kata ini yakni: (a) mengesampingkan, mengabaikan, (b) merawat, jadi tidak saling meniadakan, (c) ditempatkan pada dataran lebih tinggi di mana tesa dan antitesa keduanya tidak berfungsi sebagai lawan yang dikucilkan.

Hegel berkesimpulan bahwa tesa mengandung di dalamnya hal-hal positif dan negatif, tetapi hal positifnya lebih dominan. Sebaliknya, hal negatif lebih dominan dibanding hal positif. Di dalam antitesa, hal positif tesa dan hal negatif antitesa disintesakan menjadi suatu kesatuan yang lebih tinggi. Di dalam sintesanya segala unsur positif dari tesa dan antitesanya disatukan menjadi satu kesatuan yang lebih tinggi.

Kritik terhadap Idealisme Jerman

Karya pokok Marx adalah Das Kapital dan pangkal pemikirannya adalah Hegel. Hegel sebagai tokoh idealisme Jerman adalah sorang filsuf yang dibanggakan Marx. Namun lebih dari itu, ia sendiri mengkritik idealisme Jerman, khususnya historisisme Hegel, dengan teorinya yang disebut materialisme historis (historical materialism).

Menurut paham materialisme, materi sajalah yang nyata. Contohnya, dalam sebuah benda ada dua faktor yang bekerja: pertama, kekuatan material yang produktif, yaitu: a) material yang kasar, b) alat-alat produksi, c) kecakapan bekerja dan d) pengalaman bekerja penduduk. Kedua, nisbah-nisbah yang produksi, yaitu nisbah-nisbah antara manusia di dalam produksi itu. Paham ini bertolak dari paham filsafat sejarah Hegel yang menyatakan bahwa sesungguhnya sejarah dikendalikah oleh sebuah roh absolut yang merealisasikan di dalamnya. Sedangkan dalam pandangan Marx, sesungguhnya manusia menciptakan sejarah mereka sendiri dan sesuatu yang berada di luar (beyond the truth) telah lenyap. Dan, tugas para filsuf tidak hanya menggambarkan dunia tapi juga merubahnya.

Menurut Marx, masyarakat yang asali tidak mengenal pertentangan kelas. Adanya kelas-kelas di dalam masyarakat disebabkan karena pengkhususan pekerjaan dan karena timbulnya gagasan tentang milik pribadi yang didasarkan pada sistem ekonomi sosial.

Yang menjadi pendorong bagi Marx dan yang menjiwai zaman setelah dia adalah menghubungkan cara berpikir Hegel dengan cara berpikir Feuerbach yang merupakan sebuah keharusan yang mendalam terhadap keadaan realitas sosial. Materialisme yang diajarkan oleh Marx lebih dalam daripada materialisme yang diajarkan pada waktu itu dan harus diakui bahwa ada hal-hal yang besar yang dikemukakan oleh Marx yaitu orang pertama yang dapat melihat arti landasan ekonomi hidup kemasyarakatan secara luas sekali.

Penutup

Berbagai macam kritik telah dilontarkan kepada Hegel sebagai bentuk apresiasi dan kritik yang fondasinya dibangun oleh Marx. Seperti yang telah ditulis di awal, walaupun Marx mengkritik banyak Hegel namun ia mengakui bahwa Hegel adalah inspiratornya dan pemikir besar. Marx, yang mewakili Hegelian Kiri, memakai cara berpikir (metode) Hegel dalam mengkritiknya tanpa terjerumus ke dalam produk-produk pemikiran, khususnya filsafat sejarah.

Hegel adalah peletak basis dari pemikiran materialism historis Marx. Dengan kata lain, gagasan tentang materialism historis tidak akan ‘terwujud’ tanpa ada fisafat sejarah Hegel (Hegel’s historicism).
_______________
[1] David Mclellan, Marx before Marxicm: Second Edition (Canterbury: University of Kent, 1980), hlm. 24.

[2] Harun Hadiwiyono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2 (Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm. 118.

[3] Franz Magnis-Suseno, Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1999), hlm. 55-62.

3 comments:

Muhammad Nasir said...

Dida Darul Ulum...
Saya Ingat ketika perkenalan pertama, saya tertawa terbahak-bahak saat Mas Dubbun menyebutnya seperti nama pesantren. gak taunya kita sekamar.

blogmu bagus, mencerminkan kualitasnya.

kunjungi abang ya di nasirsalo.blogspot.com.

jangan lupa tinggalkan komentar.

syukron

Carolyn said...

People should read this.

Dida said...

thanks for the comment.