Wednesday, 28 May 2008

Musyawarah Besar Para Tikus


Di dalam sebuah kota, terdapat satu rumah yang begitu indah yang dimiliki oleh seorang kaya raya. Sehingga, setiap orang yang berkunjung ke sana dan masuk ke dalam rumahnya seakan-akan melihat sesuatu yang indah dari surga karena tata ruang rumah tersebut bagaikan sebuah istana yang megah.

Tapi, tak disangka di dalam rumah tersebut juga terdapat seekor kucing dan sekelompok tikus.

Alkisah, para tikus merasa tertindas dan ketakutan karena satu persatu dari mereka hilang entah ke mana. Tapi kemungkinan besar, menurut mereka, dibunuh dan dimakan oleh seekor kucing yang hidup berdampingan dengan mereka.

Akhirnya, mereka pun berinisiatif untuk mengadakan musyawarah besar demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka di dalam rumah yang begitu megah. Musyawarah besar dimulai oleh pemimpin para tikus.

Dalam prosesnya, ada perdebatan panjang hampir tak berujung yang membuat mereka kebingungan dalam memecahkan masalah sehingga salah satu dari mereka mengacungkan tangan untuk menginterupsi.

“Kita tahu bahwa kucing itu telah membunuh satu persatu dari kita dan mengancam keberlangsungan hidup kita. Maka, saya mengusulkan untuk menggantungkan lonceng di lehernya sehingga setiap ekor dari kita tahu bahwa suara lonceng adalah sebuah tanda dari kedatangan kucing.”

Secara spontan, pemimpin para tikus menanggapi usulan tersebut dan berkata, “Usulan anda benar tapi siapa dari kita yang mau menggantungkan lonceng.”

2 comments:

Santri Resah said...

Mas Daarul, akan sangat elegan jika Anda menyebutkan dari mana sumber ide cerita tersebut dibuat. Buat yang belum baca, memang menarik. Bahkan buat siapapun.

Tapi buat yang tahu asli cerita tersebut, nanti saya takut dibilang tidak jujur. Apalagi jika Anda pernah membaca sumber aslinya.

Namun jika belum Anda bisa klik tulisan saya ini

http://santri-resah.blogspot.com/2009/03/musyawarah-tikus.html

Dida said...

oh ya. tulisan itu saya ambil dari pelajaran muthala'ah di pesantren. judulnya Jamatul Firon. saya menulis seingat saya saja. terima kasih.