Friday, 17 December 2010

Membaca Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Pramoedya Ananta Toer (Pram) telah menghabiskan hampir separuh hidupnya di dalam penjara—3 tahun dalam penjara kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun di Orde Baru. Separuh hidupnya yang hampir dihabiskan di dalam penjara, tidak membuatnya berhenti sedikit pun untuk menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (Jakarta: Lentera Dipantara, 2007) merupakan salah satu karyanya.

Buku tersebut menceritakan pembangunan jalan yang diprakarsai Daendels, yang membentang seribu kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Daendels adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda tahun 1808 yang diangkat Raja Belanda Louis Nepoleon, adik Kaisar Perancis Napoleon Bonaparte yang ketika itu menduduki Belanda. Tugasnya mempertahankan Hindia Belanda dari kemungkinan direbut Inggris dari India.

Karya Pram yang satu ini merupakan sebuah kesaksian, kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan. Dan ini merupakan salah satu kisah tragedi kerja paksa terbesar sepanjang sejarah di Hindia Belanda. Pram menuturkan sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan air mata semua manusia Pribumi. Membacanya menjadikan pembaca terhanyut dalam bacaannya.

Gaya penulisan yang dimiliki Pram dapat menghanyutkan pembaca untuk merasakan lebih dalam tragedi yang disampaikan. Sehingga, pembaca pun akhirnya larut dan seakan-akan ikut terlibat di dalamnya. Penuturan yang sistematis memudahkan pembaca memahami alur kisah secara bertahap. Dalam bukunya, Pram menuturkan kota-kota (yang disinggahi dan yang tidak) secara rinci yang dihubungkan jalan Daendels, seperti Anyer, Cilegon, dan lain sebagainya. Tidak hanya sebatas itu, Pram juga mengungkap kisah-kisah sejarah klasik yang memiliki kaitan historis dengan kota yang dijelaskan, Banten contohnya.

Pada awalnya Banten merupakan bandar penumpukan komoditi perdagangan internasional yang berasal dari seluruh wilayah Kesultanan Banten dan dari tempat-tempat sepanjang Selat Sunda. Persaingan antara Banten dan Batavia sebagai bandar perdagangan inetrnasional tak pernah menyusut. Jadi dalam pemerintahan Gubernur Jenderal van Imhoff, seorang gadis Arab, Fatimah, dipersembahkan Belanda kepada Sultan Arifin untuk diperisteri. Begitu diperisteri, Fatimah langsung melakukan aksi-aksi sesuai dengan apa yang dikehendaki Kompeni Belanda. Langkah pertama adalah mengajukan dakwaan bahwa putera mahkota berniat menyerbu istana, membunuh Sultan, dan mengangkat dirinya menjadi Sultan Banten. Karena lebih percaya pada Fatimah, akhirnya putera mahkota ditangkap dan diserahkan kepada Kompeni Belanda untuk dibuang ke Ambon.

Kemudian Fatimah mengangkat kemenakannya sendiri menjadi putera mahkota Banten. Menyadari kekeliruannya, Sultan Arifin kehilangan akal warasnya. Pemberontakan besar pun terjadi. Apalagi masih dalam masa hidupnya kemenakan Fatimah tersebut diangkat menjadi Sultan Banten. Sehingga, Kompeni Belanda dengan mudahnya dapat mengendalikan Kesultanan Banten. Inilah secuil kisah klasik yang telah diungkapkan Pram tentang Banten.

Selanjutnya Pram juga menceritakan pengalaman hidupnya yang terkait dengan kota-kota yang dihubungkan jalan Daendels. Walaupun begitu singkat, pengalaman hidupnya yang diceritakan pasti mengundang tawa pembaca. Kekonyolan dan kecerobohan mewarnai perjalanan hidup si Kandidat Pemenang Nobel Sastra ini.

Inilah komentar singkat dari hasil bacaanku, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Tentunya pembaca yang lain memiliki komentar berbeda dari hasil bacaannya sendiri. Tapi apa pun komentar dari hasil bacaan itu, buku yang ditulis Pram ini merupakan sumbangan Indonesia untuk dunia.

No comments: