Friday, 10 August 2012

Ramadan dan Fenomena Keberagamaan Semu

Keberagamaan merupakan cara setiap orang memahami agama yang dianut. Karena itu, setiap tindakan dan cara pandang seseorang terhadap agamanya mencerminkan keberagamaannya. Dalam psikologi agama, ada perbedaan mendasar antara agama (religion) dan keberagamaan (religiosity).

Agama biasanya merujuk kepada keyakinan setiap orang terhadap agamanya, dan itu tidak dapat terukur keyakinan orang lain. Sebab, keyakinan bersifat subyektif dan tidak dapat “didistribusikan”. Sedangkan, keberagamaan merujuk kepada tingkah laku orang-orang beragama yang relatif bisa terukur keberagamaan orang lain. Menjalankan ritual-ritual keagamaan yang didasari kesalehan personal dan lain sebagainya merupakan tindakan konkrit dari keberagamaan. Meski begitu, agama dan keberagamaan selalu memiliki kaitan.

Agama dan keberagamaan tentunya dua kata yang berbeda makna satu dengan lainnya. Secara morfologis, setiap ungkapan tentu punya artinya sendiri. Dalam kaidah kebahasaan, perubahan bentuk dari kata dasar agama menjadi keberagamaan semestinya sudah cukup mengingatkan kita bahwa dua kata tersebut harus dipakai dan diberi makna yang berbeda. Adalah kekeliruan yang mesti dihindari bila dua kata ini diberi arti atau makna yang sama. Pemakaian kata ini dalam arti yang sama jelas bertentangan dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang semestinya. Agama merupakan kata benda dan keberagamaan adalah kata sifat atau keadaan (Asril Dt. Paduko Sindo, 2011).

Puasa dan Keberagamaan Semu

Saat ini Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam tengah menjalankan puasa di bulan Ramadan, bulan penuh berkah. Setiap Muslim pun menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, bahkan volume ibadah selalu ditingkatkan. Kita bisa melihat antusiasme masyarakat yang penuh dengan semangat keberagamaan tinggi dalam bulan tersebut. Pengajian-pengajian di masjid dan tempat-tempat yang memungkinkan dipakai untuk melakukan berbagai kegiatan terkait keberkahan Ramadan nyaris terisi penuh setiap hari. Semua itu tentunya didasari semangat keberagamaan yang tinggi.

Di samping itu, Ramadan juga adalah bulan yang digunakan siapa pun untuk “mencitrakan” dirinya sebagai orang saleh. Orang yang tidak pernah menjalankan ketentuan-ketentuan agamanya spontan menjadi rajin beribadah. Orang yang tidak pernah menjaga mulutnya dari mengatakan hal-hal tidak perlu baginya spontan pula menjadi orang yang selalu menjaga lidahnya. Tentunya masih ada contoh-contoh lain yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi media massa, Ramadan pun menjadi berkah tersendiri. Mereka tidak saja berkompetisi dalam menyajikan program-program andalan, tetapi juga mengejar keuntungan dari iklan sebesar-besarnya. Dengan begitu, media massa pun terjebak dan tanpa sadar menggiring pemahaman para konsumen atau pembaca ke keberagamaan yang semu (pseudo religiosity).

Memang ada beberapa ketentuan agama (Islam) yang menganjurkan para pemeluknya untuk meningkatkan volume ibadah di bulan Ramadan. Dalam sabda Nabi pun telah diterangkan bahwa berkat dan segala bentuk ibadah lainnya mendapatkan pahala yang berlipat, bahkan proses penyucian diri dan bebas dari api neraka ada di dalamnya. Hal ini yang membuat masyarakat terbelenggu, sehingga mereka begitu bersemangat berpuasa selama satu bulan penuh dan akhirnya “lelah” dalam sebelas bulan lainnya.

Fenomena tersebut menjadi yang hal biasa di masyarakat. Namun jika itu dibiarkan begitu saja, kita akan kehilangan cara keberagamaan yang utuh dan konsisten. Keberagamaan yang utuh dan konsisten sebenarnya inti dari berkat Ramadhan. Dengan kata lain, berkat tersebut dapat diperoleh dalam sebelas bulan lainnya jika saja volume ibadah yang kita tingkatkan bisa kita pertahankan secara konsisten.

Volume ibadah tinggi atau rendah memang penting, tetapi hal terpenting adalah konsistensi (istiqamah) dalam beribadah. Momentum puasa sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mengukur sejauh mana konsistensi kita dalam beribadah. Pendidikan jasmani dan rohani dalam berpuasa memberikan kita pengalaman berharga. Pendidikan jasmani memberikan kita pelajaran soal gaya hidup teratur; pendidikan rohani memberikan kita pelajaran soal keinginan kuat dalam mengendalikan hawa nafsu terkait kejujuran dan nilai-nilai religius lainnya. Orang berpuasa sepatutnya menyadari hal tersebut.

Dengan begitu, kesalehan personal pun terbentuk. Kesalehan personal tentunya harus ditransformasikan ke kesalehan sosial. Sebab, kesalehan yang utuh tak bisa dicapai tanpa aspek-aspek dari dua hal tersebut. Di Indonesia, tampaknya masyarakat hanyut dalam buaian kesalehan personal dan cenderung mengabaikan dimensi-dimensi kemasyarakatan. Mereka rajin menghadiri majelis-majelis pengajian, namun tetap melakukan korupsi di berbagai instansi pemerintah. Padahal, setiap agama mengajarkan keseimbangan antara keduanya. Maka, kesalehan personal harus sejalan dan seiring dengan kesalehan sosial.

Sayangnya kebiasaan yang timbul di lingkungan kita adalah menurunnya gairah beribadah masyarakat setelah menjalankan puasa sebulan penuh. Hal ini merupakan cerminan dari keberagamaan semu, keberagamaan bermusim, yang dilakukan karena beban sosial atau faktor lingkungan semata. Untuk itu, diperlukan sebuah penjelasan soal pentingnya konsistensi dalam beribadah dari para penceramah agama agar kita tidak terjebak ke dalam keberagamaan yang semu.

No comments: