Tuesday, 14 April 2015

Film Bukanlah Sumber Tunggal Pengetahuan

Tulisan ini ingin menanggapi tulisan Koes Nandang yang berjudul Guru Bangsa: Potret Tjokroaminoto di Tengah Prahara. Sebelum menanggapi, kita perlu mengapresiasi apa yang telah ditulis Bung Nandang bahwa “Garin Nugroho, Sang Sutradara, memang berintensi menampilkan sisi personal Tjokroaminoto secara menyeluruh.”

“Ia tidak hanya menampilkan kebesaran Tjokroaminoto sebagai pemimpin SI, melainkan juga Tjokroaminoto yang rapuh ketika organisasi yang dipimpinnya diterpa badai perpecahan,” tulisnya.

Bung Nandang yang saya kenal memang seorang pembaca yang baik tentang historiografi dan kajian-kajian populer lain. Ia dengan luar biasa bisa bercerita tentang sebuah peristiwa sejarah tertentu seolah-olah ia memang pernah hidup di zamannya. Zaman batu contohnya.

Apa yang telah ditulis Bung Nandang di paragraf awal tulisannya senada dengan apa yang telah disampaikan Akh Muzakki di The Jakarta Post (13/02/13) bahwa “the national film industry has recently been witnessing a new trend: movies inspired by the life stories of leading national figures.

Di tengah kisruh politik dan korupsi yang dahsyat di negeri ini, film-film tokoh bangsa menjadi begitu penting. Sebab, kita perlu mendapatkan inspirasi dari para pendiri bangsa sebagai contoh yang baik untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

To win public acceptance, the transmission of ideas and values adopted in the movie should provide viewers with a level of certainty for their practical lives,” tulis Muzakki.

Menurut Bung Nandang (dalam dialognya bersama saya), Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015) adalah film hambar. Sepertinya film itu begitu hambar dalam pandangannya karena beberapa aktor yang terlibat kurang menjiwai setiap karakter yang diperankan. Pengambilan gambar yang tidak begitu “baik” dan garingnya humor juga punya pengaruh.

Meski begitu, Garin berhasil menampilkan Tjokro—yang diperankan Reza Rahadian—dengan sangat tepat. Reza bisa menjiwai “hijrah” Tjokro dalam setiap tindakannya. Di samping itu, Garin bukan tipe sutradara yang suka menampilkan sisi-sisi romantik dalam filmnya yang lain semacam Soegija (2012).

Selain persoalan di atas, Bung Nandang juga mengungkapkan bahwa film itu juga punya cacat. “Ketiadaan Alimin dan Kartosuwiryo dalam film merupakan sebuah kejanggalan,” tulisnya.

Dengan mengutip Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, terj. Hilmar Farid (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1997) dan Majalah Tempo tentang Tjokroaminoto, Bung Nandang menyampaikan kritik keras. “Tanpa kedua tokoh tersebut, penggambaran situasi di Rumah Peneleh terkesan mengkhianati sejarah,” tulisnya.

Bung Nandang sepertinya berharap terlalu besar dan lupa bahwa tidak semua hal bisa diceritakan dalam sebuah film. Ada rentetan peristiwa yang harus dipilah-pilah. Sehingga, sebuah momen di mana Tjokro menulis Islam dan Sosialisme (Djakarta: Lembaga Penggali dan Penghimpun Sedjarah Revolusi Indonesia, 1966) juga tidak bisa ditampilkan.

Bung Nandang harus sadar dan mengingatkan masyarakat bahwa film sejarah tokoh bangsa tidak bisa dijadikan sebagai satu-satunya referensi dalam pengetahuan. Harus ada kritisisme di sana. Sebab, film hanya gambaran dari sebuah konsepsi dan buku yang merupakan hasil riset ilmiah bisa mengimbanginya.

Kita tidak mungkin meyakini cerita dalam sebuah film sebagai kebenaran tunggal. Setiap orang pasti punya penilaian berbeda terhadap kebenaran tersebut. Saya dan Bung Nandang pun demikian.

NB: Tulisan ini telah dimuat di paramasophia.com.

No comments: